Saturday, October 8, 2016

Siapakah Kita?



Jika tiba-tiba ada yang bertanya, “Siapkah Anda?” Maka jawaban paling spontan, “Saya adalah manusia. ”Siapakah manusia itu? Darimana asalnya? Akan kemana nantinya?.”
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka menciptakan langit dan bumi? Tidak, bahkan mereka tidak meyakini apa yang mereka katakan. (Ath-Thur:35-36)
Kepercayaan terhadap Tuhan adalah fitrah yang melekat pada manusia. Salah satu bentuk perwujudan dari kepercayaan tersebut yaitu do’a. Berdo’a menandakan seseorang percaya pada kekuatan di luar dirinya, terbukti dari ucapan “Semoga lekas sembuh” atau “Mudah-mudahan selamat sampai tujuan.” Ucapan itu menunjukkan sikap menyandarkan diri kepada sesuatu yang layak disandari, yakni Tuhan yang biasa kita panggil Allah menurut ajaran Islam.
Sebagian orang tidak percaya jika dikatakan bahwa Tuhan telah mengambil kesaksian terhadap jiwa atau ruh mereka sebelum lahir, bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Penolakan kesaksian ialah karena lupa bahwa dirinya pernah bersaksi atas ketuhanan-Nya. Hal itu sangat mungkin terjadi, karena untuk menyebutkan apa yang sudah kita lakukan 10 tahun lalu pun, mana sanggup mengingatnya. Apakah kita tidak berbuat apa-apa? Ataukah kita akan berpendapat bahwa 10 tahun lalu kita tidak ada?
Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan dari anak-anak Adam keturunan dari sulbinya dan menjadikan saksi atas diri mereka sendiri dengan pertanyaan, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya, kami bersaksi, Engkau Tuhan kami. ”Demikianlah Kami lakukan itu supaya pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Ketika itu kami lalai terhadap keesaan-Mu” (al-A’raf:172).
Allah adalah wujud yang tak dapat diingkari, hakikat-Nya tak dapat diketahui dan dijangkau oleh manusia. Namun Dia memperkenalkan tentang dzat-Nya sendiri kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya melalui firman atau kata-kata utusan-Nya. Semua itu dapat kita peroleh melalui ajaran agama Islam sebagai agama yang paling sempurna menurut-Nya. Kehidupan di dunia tak akan sunyi dari agama; dari orang-orang yang mengagungkan-Nya. Manusia akan selalu rindu kepada Allah dan merasakan suatu kehampaan dalam jiwanya jika mencoba hidup tanpa agama dan iman kepada Tuhan Yang Maha Sempurna (Chirzin, dalam Sabiq, t.t.:7). 
Secara harfiah, Islam adalah penyerahan, pendamaian, sehingga Islam merupakan petunjuk atau peraturan hidup lahir dan batin, yang berasal dari Allah di mana orang akan memiliki rasa, anggapan, serta keyakinan bahwa setiap tindakan manusia akan mendapat balasan sesudah mati (Chirzin, dalam Fakhrudin, 1984:13). 
Islam dengan ajaran tauhid dan syariat serta tuntunan akhlaknya menghidupkan jiwa yang beku, menggugah hati yang layu, dan membangkitkan naluri kebaikan pada diri seseorang, sehingga mempunyai dada yang lapang guna terjalinnya pergaulan yang rukun.
Itulah mengapa manusia dan agama merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan karena sebagai makhluk ciptaan-Nya tentu kita membutuhkan agama demi keberlangsungan hidup di dunia dan akhirat. Jadi, apabila ada orang yang bertanya, “Siapakah Anda? Siapakah kita?”, maka dengan yakin jawablah bahwa “Kita adalah makhluk Allah dan umat Islam yang kelak akan kembali kepada-Nya.”
(Sumber: Chirzin, Muhammad.2015.Akidah Islam.Jakarta: Zaman)

Thursday, October 6, 2016

Long Distance RelationSHIP or Long Distance RelationSHIT?



Apakah kamu termasuk barisan para pejuang LDR? Atau masih calon peserta LDR?
Hubungan jarak jauh yang lebih ngetren disebut LDR oleh kaum remaja ini merupakan salah satu bentuk ikatan status antara dua orang, yakni kaum adam dan kaum hawa yang terpisah oleh bentangan kilometer nun jauh disana.
Bagi sebagian makhluk, LDR lebih layak dikatakan Long Distance RelationSHIT karena memang dalam hubungan bak sambungan kabel telepon jarak jauh itu, porsi merana nan sengsara relatif lebih banyak ketimbang hura-hura romansa. Jarak yang terbentang tidak hanya antarkota, pulau, bahkan lebih mengerikan yaitu antarnegara. Dalam beberapa kasus, tidak jarang hubungan putus karena faktor jarak, meskipun masih satu pulau. Apa kabar kalau beda negara, beda dunia, bahkan beda zona waktu?

Orang yang ditinggal LDR itu sakitnya berlipat ganda. Memang seharusnya kita senang ketika si doi mendapat kesempatan emas di belahan dunia yang lain, namun yang ada justru rasa sedih tak terkira seolah otak memaksa keras untuk menyalahkan dunia yang berkonspirasi melawan kebahagiaan kita. So...mau dibawa kemana hubungan kita?
Dunia sepertinya mendukung dengan lagu Armada sebagai backsong kisah LDR yang waktu itu lagi beken bukan kepalang, menghantui tiap siaran radio, perempatan, mall dan pasar se-nusantara. Hari-hari yang dilalui pada masa LDR terasa bagai neraka bagi ratu drama dan aktor melankolis yang menjalaninya. Setiap sudut kota mengingatkan akan si doi dengan ketiadaannya di kota itu. 

Dalam hubungan lintas benua tersebut, komunikasi yang sering digunakan dapat melalui sesi videochat via Skype dan Gtalk maupun chatting di Facebook. Tapi hal itu sudah lebih dari cukup mengobati rindu yang terus beradu, meskipun hanya mendengar suara khas yang tak mampu menipu telinga.
Di tengah sepinya hari, banyak godaan mengundang yang dapat menyebabkan “kseleo” hati hingga melirik calon jodoh orang lain. Gawatnya jika hubungan haram itu ketahuan oleh si doi, maka terjadilah huru-hara dalam LDR. Untungnya kalau memang si doi punya keteguhan setebal baja hingga ia hanya ingin jadi titik di hidupmu, bukan koma sebagai perhentian sementara, karena “titik tidak pernah bermimpi jadi koma.” Dengan begitu, kamu akan sadar dan memutuskan berhenti bermuram durja, beralih ke langkah strategis yang dapat menopang perjalanan menuju gerbang masa depan. Sang otak seringkali berbisik menawarkan ide demi memangkas jarak agar bisa lebih dekat, tetapi kadang hati tidak menyepakati dan logika pun menolak secara terang-terangan.

LDR tak hanya bermain rasa dan asa, namun lebih pada memberi ruang toleransi yang cukup biar hati bisa bertahan di tengah terpaan badai kesibukan masing-masing di tempat dan zona waktu yang berbeda. Para pejuang LDR sudah pasti harus cerdas mengatur kencan di dunia maya meskipun kita tahu itu bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sering terbesit dalam benak, “Yang di ujung sana melakukan apa dengan siapa?” Hingga akhirnya mengumbar api cemburu nan curiga.
Bertahan dalam hubungan LDR tidaklah mustahil. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan,misalnya dengan mengubah rasa sedih menjadi motivasi dan mampu mengelola rasa rindu. Pada akhirnya dunia pun tahu bahwa kita menang melawan jarak sekaligus mampu mencapai prestasi hingga mendapat gelar Master of LDR yang sudah banyak menggondol medali emas.

So...LDR bukanlah sesuatu yang patut dicemaskan, bahkan seharusnya disyukuri oleh para pemain peran LDR yang kini masih bertahan. Jarak sebaiknya tidak dijadikan musuh untuk dilawan, toh masih bisa kita usahakan dengan menyikapi secara bijak.
Selamat berjuang para peserta LDR...



(Sumber: @pacaranLDR, Okka dkk. 2013.Kilometer. Bogor: Bypass)