Jika
tiba-tiba ada yang bertanya, “Siapkah Anda?” Maka jawaban paling spontan, “Saya
adalah manusia. ”Siapakah manusia itu? Darimana asalnya? Akan kemana
nantinya?.”
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu
pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka
menciptakan langit dan bumi? Tidak, bahkan mereka tidak meyakini apa yang
mereka katakan. (Ath-Thur:35-36)
Kepercayaan
terhadap Tuhan adalah fitrah yang melekat pada manusia. Salah satu bentuk
perwujudan dari kepercayaan tersebut yaitu do’a. Berdo’a menandakan seseorang
percaya pada kekuatan di luar dirinya, terbukti dari ucapan “Semoga lekas
sembuh” atau “Mudah-mudahan selamat sampai tujuan.” Ucapan itu menunjukkan
sikap menyandarkan diri kepada sesuatu yang layak disandari, yakni Tuhan yang
biasa kita panggil Allah menurut ajaran Islam.
Sebagian
orang tidak percaya jika dikatakan bahwa Tuhan telah mengambil kesaksian
terhadap jiwa atau ruh mereka sebelum lahir, bahwa Allah adalah Tuhan mereka.
Penolakan kesaksian ialah karena lupa bahwa dirinya pernah bersaksi atas
ketuhanan-Nya. Hal itu sangat mungkin terjadi, karena untuk menyebutkan apa
yang sudah kita lakukan 10 tahun lalu pun, mana sanggup mengingatnya. Apakah
kita tidak berbuat apa-apa? Ataukah kita akan berpendapat bahwa 10 tahun lalu
kita tidak ada?
Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan
dari anak-anak Adam keturunan dari sulbinya dan menjadikan saksi atas diri
mereka sendiri dengan pertanyaan, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya,
kami bersaksi, Engkau Tuhan kami. ”Demikianlah Kami lakukan itu supaya pada
hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Ketika itu kami lalai terhadap keesaan-Mu”
(al-A’raf:172).
Allah
adalah wujud yang tak dapat diingkari, hakikat-Nya tak dapat diketahui dan
dijangkau oleh manusia. Namun Dia memperkenalkan tentang dzat-Nya sendiri
kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya melalui firman atau kata-kata
utusan-Nya. Semua itu dapat kita peroleh melalui ajaran agama Islam sebagai
agama yang paling sempurna menurut-Nya. Kehidupan di dunia tak akan sunyi dari
agama; dari orang-orang yang mengagungkan-Nya. Manusia akan selalu rindu kepada
Allah dan merasakan suatu kehampaan dalam jiwanya jika mencoba hidup tanpa
agama dan iman kepada Tuhan Yang Maha Sempurna (Chirzin, dalam Sabiq, t.t.:7).
Secara
harfiah, Islam adalah penyerahan, pendamaian, sehingga Islam merupakan petunjuk
atau peraturan hidup lahir dan batin, yang berasal dari Allah di mana orang
akan memiliki rasa, anggapan, serta keyakinan bahwa setiap tindakan manusia
akan mendapat balasan sesudah mati (Chirzin, dalam Fakhrudin, 1984:13).
Islam
dengan ajaran tauhid dan syariat serta tuntunan akhlaknya menghidupkan jiwa
yang beku, menggugah hati yang layu, dan membangkitkan naluri kebaikan pada
diri seseorang, sehingga mempunyai dada yang lapang guna terjalinnya pergaulan
yang rukun.
Itulah
mengapa manusia dan agama merupakan satu paket yang tidak bisa dipisahkan
karena sebagai makhluk ciptaan-Nya tentu kita membutuhkan agama demi
keberlangsungan hidup di dunia dan akhirat. Jadi, apabila ada orang yang
bertanya, “Siapakah Anda? Siapakah kita?”, maka dengan yakin jawablah bahwa “Kita
adalah makhluk Allah dan umat Islam yang kelak akan kembali kepada-Nya.”
(Sumber:
Chirzin, Muhammad.2015.Akidah Islam.Jakarta: Zaman)

